
GENERASI YEREMIA; GENERASI AKHIR ZAMAN

I. PANGGILAN UNIK NABI YEREMIA
Yeremia adalah seorang nabi yang sejaman dengan
nabi-nabi lain seperti Zefanya, Habakuk, Daniel, dan
Yehezkiel. Tugas yang diberikan Tuhan kepada dirinya
adalah unik yaitu untuk mempersiapkan bangsa Yehuda
untuk menghadapi kehancurannya.
Seperti Daniel, Yeremia dipersiapkan semenjak masa
mudanya untuk masuk ke dalam panggilan kenabiannya.
Didalam Alkitab, seseorang yang mengalami panggilan
semenjak masa mudanya memiliki kekhususan yang penting.
Mereka yang mengalami panggilan dan pembentukan Allah
semenjak dari masa muda - biasanya memainkan peran yang
menentukan yang menjadi “pivotal point” (titik balik)
bagi rencana Allah buat umatnya; seperti dalam kasus
Musa, Simson, dan Yeremia.
a. Musa dalam hal menjadi hal titik awal rencana Allah
di dalam membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Mesir,
b. Simson dalam hal menjadi hakim yang paling lama
memerintah di Israel (40 tahun) dan memberikan keamanan
dalam batas-batas tertentu selama masa pemerintahannya,
dan
c. Yeremia di dalam hal mempersiapkan pembuangan bangsa
Yehuda ke Babel.
Meskipun ada banyak gambaran yang dicatat di dalam
Alkitab mengenai pelayanan ‘the next generation’ yang
dapat menggambarkan generasi muda pada saat ini; seperti:
a. ‘Generasi Yosua’ yang memasuki Negeri Perjanjian,
b. ‘Generasi Elisa’ yang menerima warisan ‘Double
Portion’,
c. ‘Generasi Daniel’ yang hidup sempurna di dalam dunia
yang penuh dengan dosa,
dan banyak contoh-contoh yang lain; namun ada beberapa
hal dalam kehidupan dan pelayanan nabi Yeremia yang unik
dan memiliki korelasi yang cukup kuat dengan jaman
sekarang.
Istilah “Generasi Yeremia” sendiri dikemukakan pertama
kali dalam Empowered21 Asia tahun 2018 dan terminologi
ini juga digunakan oleh Church of God (COG), Cleveland,
Tennessee untuk mengidentifikasi generasi muda zaman
now.
COG adalah amalgamasi dari Gereja Bethel Indonesia (GBI).
Semenjak saat itu, istilah ini diadopsi oleh GBI Jl.
Jend.Gatot Subroto, Jakarta untuk menjadi tema yang
diusung didalam pelayanan Pemuda dan Anak dibawah
naungan pelayanannya.
Pdt.Dr.Ir.Niko Njotorahardjo, Gembala Sidang GBI
Jl.Jend.Gatot Subroto, Jakarta, menyatakan hal-hal
berikut mengenai Generasi Yeremia:
a. Yeremia adalah nabi yang dipakai Tuhan pada usia muda,
diperkirakan antara 20-30 tahun.
b. Yeremia dipakai Tuhan secara unik karena harus
menyampaikan sesuatu yang tidak populer pada zaman itu.
Jika pada zaman itu orang berbuat dosa dan ditegor,
banyak yang berkata: “tidak apa-apa, Tuhan pasti
mengampuni, tidak ada hukuman, semua damai!” dan
semacamnya. Hal itu bahkan diutarakan nabi-nabi lain
pada zaman itu dan kini kitapun melihat banyak orang;
bahkan para Hamba Tuhan memperkatakan hal yang sama.
Yeremia menyerukan pertobatan, dan itu tidak populer.
c. Yeremia berani mendobrak pemikiran yang populer -
tetapi tidak sesuai isi hati Tuhan.
Banyak orang bertanya, mengapa nama ’Generasi Yeremia’
yang dipakai untuk menggambarkan generasi ini? Bukankah
‘Generasi Yosua’ atau ‘Generasi Elisa’ lebih cocok untuk
menggambarkan masa depan yang lebih cerah dan panggilan
hidup yang lebih ‘sukses’? Kunci jawabannya adalah
penempatan generasi tersebut didalam keseluruhan rencana
Allah.
Jika kita melihat deskripsi yang dipaparkan oleh Tuhan
Yesus tentang jaman menjelang kedatangan-Nya, maka akan
terlihat jelas motif kesukaran, penderitaan, dan
penganiayaan, menjelang tibanya zaman baru dan
kemenangan akhir Kerajaan Allah.
Di dalam sebuat cerita drama genre epic/saga, tidak
selamanya pihak ‘good guys’ selalu mengalami kemenangan.
Kadang-kadang mereka mengalami kekalahan sementara yang
pada akhirnya menguatkan tekad dan kinerja mereka untuk
pada akhirnya mengalami kemenangan. Demikian pula
Generasi Yeremia.
Allah didalam kedaulatan dan hikmatnya memilih untuk
menaruh Generasi Yeremia di bagian ‘plot’ cerita dimana
kelihatannya, pihak ‘good guys’ sedang terpukul mundur,
tapi sebenarnya Allah sedang memakai mereka untuk
membawa umatnya masuk ke ‘Babak Terakhir’ dimana
Kerajaan Allah akhirnya mengalami kemenangan.
II. KORELASI KEUNIKAN YEREMIA DENGAN GENERASI MASA KINI
Marilah kita melihat beberapa keunikan didalam kehidupan
dan pelayanan Yeremia yang memiliki korelasi yang kuat
bagi generasi masa kini:
A. Yeremia Melayani di dalam Zaman yang Unik
Yaitu zaman dimana ‘kasih karunia’ Allah secara umum
kepada bangsa Yehuda akan segera berakhir, dan akan
disusul dengan sebuah masa penghukuman.
Kerajaan sekarang telah terpecah dua; Israel dan Yehuda.
Israel yang terdiri dari 10 suku di Utara kota Yerusalem
baru saja mengalami hukuman Tuhan yaitu kehancuran kota
Samaria pada tahun 722 SM ditangan bangsa Asyur.
Karena Perjanjian Allah kepada Daud untuk mengokohkan
Kerajaan dan Takhta Daud, Tuhan masih memperpanjang
“grace period” kepada Kerajaan Yehuda.
a. Kerajaan Israel memiliki 19 raja, tidak ada satu pun
yang hidup benar dimata Tuhan, sedangkan
b. Kerajaan Yehuda sampai pada akhirnya, memiliki 21
raja, 8 diantaranya hidup berkenan dihadapan Tuhan (Hizkia,
Yosafat) dan ‘cukup berkenan’ dihadapan Tuhan, tetapi
tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan dengan segenap hati
seperti Daud (Asa, Uzia, Yoas, Yosia, Azarya, Amazia).
Beberapa dari mereka berusaha untuk melakukan reformasi
seperti raja Yosia, tetapi tidak cukup untuk membalikkan
trajectory Kerajaan Yehuda untuk sampai bisa kembali
menjadi gambaran Kerajaan Allah di muka bumi.
Pararel yang sama mungkin juga terlihat pada jaman
pelayanan Tuhan Yesus di bumi. Masyarakat Israel pada
abad pertama diwakili terutama oleh:
a. kaum Saduki, yang sebagian besar adalah ‘Hellenized
Jews’, dan
b. kaum Farisi yang memegang teguh hukum Musa, dan hukum
oral dari masa pembuangan (Torah B’al Pe).
Tuhan Yesus, jika dilihat didalam catatan keempat Injil,
hampir tidak pernah mengkritisi perbuatan orang Saduki,
karena meskipun mereka masih tercatat sebagai orang
Yahudi, tetapi secara mental mereka adalah bagian dari
budaya Yunani yang sangat berbeda dengan perilaku kaum
Farisi yang orthodox.
Perbuatan Akan Mengalir dari Pola Pikir
Jika pola pikir seseorang adalah sekuler, maka tingkah
laku mereka akan mencerminkan sistem nilai yang seperti
itu. Yang menjadi masalah ialah mereka yang mengaku diri
mereka sabagai orang yang memegang hukum Tuhan, tetapi
gaya hidup mereka tidak mencerminkan buah yang sesuai
dengan pengakuan mereka. Hal ini bahkan tetap tercermin
di dalam keadaan masyarakat negara Israel modern.
Secara umum, masyarakat Israel adalah masyarakat modern
yang sekuler, dan tidak menganggap Tanakh (Alkitab
Ibrani) sebagai sesuatu yang harus diterima secara
harafiah, tetapi mereka berpendapat bahwa sebagai orang
Yahudi mereka menghormati nilai-nilai ‘universal’ yang
terkandung dalam kitab-kitab suci mereka. Golongan ini
seperti golongan orang Saduki pada jaman Tuhan Yesus.
Sebagian kecil orang Yahudi yang disebut sekarang
sebagai kaum Hassidic (dapat terlihat dari pakaian
mereka) tetap memegang tradisi para bapa leluhur secara
harafiah.
Pararel yang terjadi pada zaman sekarang ialah Generasi
Yeremia memiliki ‘dual message’ yang harus disampaikan,
mengenai ‘conversion’ dan ‘repentance’.
a. Conversion bagi mereka yang masih berada diluar ‘iman
Kristiani’ dan
b. Repentance bagi mereka yang sudah mengaku ‘Kristen’
tetapi belum memiliki gaya hidup yang dibaharui.
Kelihatannya Tuhan menuntun mereka yang mengaku
‘mengenal Allah yang Benar’ dengan mulut mereka, untuk
menunjukkan kebenaran hal itu dengan kesaksian kehidupan
mereka.
Para sarjana Alkitab memperkirakan bahwa Yeremia
melayani selama pemerintahan raja Yoyakim (605 SM) pada
saat ia menerima pesan profetik dari Tuhan kurang lebih
20 tahun yang lalu mengenai panggilan hidupnya dan
mengenai masa depan bangsa Yehuda, kurun waktu ini
kurang lebih koresponden dengan 20 pasal pertama dari
kitab nabi Yeremia.
Para sarjana Alkitab juga merasa bahwa di dalam kitab
Yeremia-lah terdapat ‘point of no return’ di dalam
sejarah bangsa Yehuda yaitu didalam pasal yang ke tujuh.
Bangsa Yehuda begitu merasa aman dan tidak mungkin
mengalami bencana apapun.
Hal ini memiliki kemiripan yang luar biasa jika melihat
status kekristenan secara global. Harus diakui bahwa
abad ke-20 dan abad ke-21 adalah waktu dimana
kekristenan dapatlah disebut sebagai agama global
pertama di dunia. Kekristenan telah mencapai semua
belahan bumi; Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara meskipun
dalam jumlah yang sedikit, Afrika sub Sahara, Afrika
bagian Selatan, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Timur,
Austro Pasifik, dan hampir keseluruhan benua Amerika.
Secara kuantitatif, kekristenan mengalami lonjakkan yang
amat besar, namun secara kualitatif, ditakutkan bahwa
perilaku orang Kristen, terutama didalam demografi usia
muda, tidak menunjukkan perubahan gaya hidup yang
berbeda secara signifikan dengan mereka yang non-
Kristen .
Yeremia 7:4-7 berkata:
(4) “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang
berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN,
(5) “melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki
tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu
sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu
masing-masing,
(6) tidak menindas orang asing, yatim dan jannda, tidak
menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini
dan tidak mengikuti Allah lain, yang menjadi
kemalanganmu sendiri,
(7) maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini,
di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu,
dari dahulu kala sampai selama-lamanya.”
Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Tuhan menuntut
pertobatan dibuktikan dengan perubahan perilaku yang
menunjukkan perubahan sikap hati dan pola pikir.
Sikap kefasikan bangsa Yehuda yang sepertinya hidup di
dalam ‘dual track’ dimana ibadah-ibadah kepada YHWH
tetap berlangsung seperti biasa, sementara kefasikan dan
kenajisan yang luar biasa terjadi ditengah-tengah mereka.
Pengajaran Hypergrace yang seolah-olah membuat
pertobatan hanya bersifat ‘conversion’ yaitu perubahan
pola kepercayaan dan pola pikir tanpa perlu menekankan
perubahan perilaku yang membuktikan pertobatan itu,
sepertinya menjadi modern counterpart (kesejajaran
modern) dari apa yang terjadi pada zaman nabi Yeremia.
Allah di dalam kesabaran-Nya memberikan ‘grace period’
dan menunggu sampai kaum Yehuda memiliki buah pertobatan
yang sungguh-sungguh, yang mungkin masih sempat
‘membelokkan’ nasib bangsa Yehuda karena campur tangan
Allah - kembali dalam kehidupan nasional mereka. Mereka
hanya perlu melihat contoh tetangga mereka yaitu kota
Samaria, yang sempat beberapa kali mengalami kelepasan
akibat pertolongan Tuhan, terutama selama masa pelayanan
nabi Elisa.
Di dalam kitab Yehezkiel pasal 23 terdapat perumpamaan
mengenai kedua kakak beradik yakni Ohola dan Oholiba
yang menjadi istri dari YHWH. Kedua kakak beradik ini
adalah perlambangan keadaan rohani dari kedua kerajaan
ini, yaitu Samaria dan Yerusalem. Kedua duanya berdosa
kepada YHWH sebagai suami mereka, tetapi di ayat 11,
dikatakan bahwa Tuhan menganggap kesalahan Oholiba (Yerusalem)
lebih jahat dari apa yang diperbuat oleh Ohola
(Samaria).
Para ahli sejarah berusaha menebak tingkat akulturasi
yang terjadi di Kerajaan Israel Utara, terutama pada
jaman pemerintahan raja Ahab dan ratu Izebel, dan mereka
mengambil kesimpulan bahwa ‘akulturasi’ peradaban
Phoenicia oleh kerajaan Israel adalah sangat tinggi,
sehingga ibadah ‘Mosaic’ yang diwarisi pada zaman
kerajaan bersatu hampir-hampir hilang sama sekali dan
digantikan penyembahan berhala bangsa Phonecia dari kota
Sidon yang dibawa oleh ratu Izebel.
B. Yeremia dipanggil kepada Gaya Hidup Penyangkalan Diri
yang Radikal
Memang tidak dicatat bahwa Yeremia dipanggil untuk
menjalani kehidupan seorang Nazir, namun dapat dikatakan
bahwa Tuhan memanggil Yeremia kedalam suatu panggilan
yang ‘tidak umum’ berlaku bagi semua orang.
1. Yeremia dipanggil kedalam kehidupan yang
konfrontasional, tetapi ia juga dipanggil untuk memiliki
hati yang tetap ‘lembut’ untuk ikut menangis melihat
penderitaan bangsanya.
Hal ini jelas terlihat dalam intisari panggilan Yeremia
di pasal1; Ia dipanggil untuk mencabut dan menanam, ia
dipanggil untuk menjadi kota berkubu, tiang besi, dan
tembok tembaga (Yeremia 1:17-18, “(17) Tetapi engkau ini,
baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah
kepada mereka segala yang kuperintahkan kepadamu.
Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku
menggentarkan engkau di depan mereka! (18) Mengenai Aku,
sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi
kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok
tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja
Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan
rakyat negeri ini.”).
Sebagai hasil dari panggilan seperti ini, Yeremia
mengalami ancaman terhadap nyawanya ketika ada
orang-orang yang berencana membunuhnya (Yeremia 11:9,
“Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Telah terdapat
persepakatan jahat di antara orang Yehuda dan penduduk
Yerusalem”). Ia juga harus dimasukkan kedalam sumur
untuk menyelamatkan nyawanya. Hal yang sama yang akan
kita lihat dari generasi Yeremia.
Ditengah-tengah dunia yang semakin relative, toleran,
dan tidak dapat menerima kebenaran yang mutlak, generasi
Yeremia harus berani tampil dengan pesan yang tegas dan
tanpa kompromi, namun pada saat yang sama, menunjukkan
kasih dan kelembutan yang dalam kepada dunia yang
menderita akibat dosa.
Ravi Zacharias, seorang tokoh apologetika yang dipakai
Tuhan luar biasa berkata: “People are equal, ideas are
not equal”. Biarlah kita bisa menunjukkan kedua hal ini
di dalam kesaksian kita di dunia.
2. Yeremia diminta untuk tidak menikah, mengingat masa
yang dihidupinya serta tantangan dalam pelayanannya akan
membuat ia repot jika berkeluarga (Yeremia 16:2
“Janganlah mengambil isteri dan janganlah mempunyai
anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan di tempat ini.”)
Hal ini adalah tuntutan yang sangat radikal didalam
panggilan pelayanan Yeremia. Menikah dan memiliki
keluarga yang bahagia adalah dambaan manusia, termasuk
juga orang Israel.
Namun, pada saat-saat sulit, kadang-kadang dibutuhkan
tindakan-tindakan ekstrim (desperate times calls for
desperate measures). Panggilan seorang nazir Allah
adalah suatu contoh pararel. Seorang nazir Allah
dilarang untuk menikmati hasil buah anggur, didalam
segala produk turunannya (Bilangan 6:4 “Selama waktu
kenazirannya janganlah ia makan sesuatu apapun yang
berasal dari pohon anggur, dari bijinya sampai kepada
pucuk rantingnya.”).
Hasil produk buah anggur (buah, jus, kismis, dan lain
sebaginya) adalah salah satu berkat Allah bagi bangsa
Israel yang harus dinikmati, tetapi kaum nazir diminta
untuk ‘abstain’ dari kenikmatan yang kelihatnya ‘valid’
dan ‘legit’.
Di dalam Perjanjian Baru, Paulus juga menyampaikan
prinsip yang sama dalam 1 Korintus 7. Konteks pasal itu
adalah kekudusan hidup pernikahan, tetapi prinsip
umumnya berlaku untuk banyak hal lainnya.
1 Korintus 7:29-31 berkata:
(29) “Saudara-saudara inilah yang kumaksudkan, yaitu:
waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih
sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku
seolah-olah mereka tidak beristeri;
(30) dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak
menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah
tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli
seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;
(31) pendeknya orang-orang yang mempergunakan
barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak
mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal
sekarang akan berlalu.”
Hampir 2000 tahun yang lalu, Paulus menasihatkan supaya
gereja mula-mula, menjaga ‘tensi’ antara:
a. tetap menjadi kesaksian bagi masyarakat di dunia ini
dengan menjaga integritas didalam kehidupan berumah
tangga, kehidupan usaha, dan kehidupan bermasyarakat,
b. namun pada saat yang sama, bersiap-siap untuk
menyambut rencana Allah yang besar yang pasti akan
meng’invasi’ dunia ini dan ‘mengganggu’ kenormalan hidup
kita.
Paulus menasihatkan supaya yang sudah beristri seperti
menganggap dirinya ‘tidak beristri’ yang artinya siap
sedia jika Tuhan memanggil pasangan hidup kita terlebih
dahulu, karena gereja mula-mula akan segera memasuki
zaman aniaya di seluruh kekaisaran Romawi. Diatasnya
Paulus menjelaskan untuk hidup sesuai dengan keadaan
waktu Tuhan memanggil kita, bukan sebagai suatu paksaan,
tetapi sebagai suatu pertimbangan, mengingat keadaan
yang akan segera memasuki ‘keadaan darurat’.
Demikian pula untuk generasi Yeremia pada saat ini.
Merebaknya wabah virus COVID-19 pada tahun 2020-2023
secara global kita sikapi sebagai tanda supaya gereja
Tuhan bersiap untuk intervensi surgawi kedalam
peristiwa-peristiwa dunia ini demi menyongsong
kedatangan Kristus kembali, yang harus didahului dengan
penyelesaian Amanat Agung.
Jika kita melihat sejarah dunia ini, tidak banyak
peristiwa yang pernah terjadi yang sanggup mempengaruhi
lebih dari 90% negara-negara yang ada di dunia ini.
Bahkan perang dunia ke dua sekalipun, meskipun sangat
destruktif, dan menghancurkan sebagian besar benua Eropa
(Spanyol dan Portugal, Swedia dan Switzerland netral),
Asia, Afrika Utara, tetapi benua Amerika Selatan,
Amerika Tengah, Australia (bagian utara, Darwin, sempat
terancam oleh pemboman Angkatan Laut Kekaisaran Jepang,
sisanya aman), dan Afrika bagian selatan masih terhitung
cukup aman.
Mungkinkah ini adalah terompet peringatan di akhir zaman
untuk generasi Yeremia bersiap diri, Tuhan mungkin
menuntut pengorbanan yang cukup radikal didalam
perubahan gaya hidup dan tujuan hidup mereka? Di dalam
hal pemilihan karir, pemilihan pasangan hidup, dan
hal-hal utama lainnya didalam hidup, harus bersedia
ditundukkan kepada kedaulatan Tuhan.
C. Yeremia mendapatkan Pesan yang Sangat Jelas: apa yang
akan terjadi di ‘next phase’ dalam rencana Tuhan bagi
bangsa Israel
Semua nabi di Perjanjian Lama, baik nabi besar, maupun
nabi kecil, diberikan penglihatan mesianik mengenai
pribadi dan karya Mesias. Yesaya diberikan teropong
jangka panjang didalam pasal 53 untuk menyimpulkan
dengan begitu brilian dan elegan karya mesias untuk
menjadi ‘scapegoat’ yang memulihkan Israel.
Mikha, sebagai contoh dari kategori nabi kecil,
diberikan nubuatan detail mengenai tempat kelahiran
Mesias, dan banyak nabi-nabi kecil lainnya.
Yeremia diberikan suatu nubuatan yang bukan hanya sangat
jelas, tetapi benar-benar bisa dijadikan ‘marker’ atau
tolok ukur rencana Tuhan bagi bangsa Israel didalam next
phase.
Yeremia 31:31-34
(31) Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah
firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan
kaum Israel dan kaum Yehuda,
(32) bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan
nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan
mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah mesir;
perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku
menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah
firman TUHAN.
(33) Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan
kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan:
Aku akan merauh Taurat-Ku dalam batin mereka dan
menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi
Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.
(34) Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau
mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN!
Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku,
demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni
kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
Istilah “Perjanjian yang Baru” (Brit Chadass) adalah the
‘next step’ didalam rencana Allah bagi Israel. Israel
dalam generasi itu telah gagal, tetapi Allah belum
begitu saja membuang Israel, karena masih tersisa satu
tugas lagi bagi mereka, yaitu melahirkan sang Mesias,
yang menjadi pengantara Perjanjian yang Baru - yang
pertama-tama diberikan kepada kaum Israel dan kaum
Yehuda.
Sampai pada hari ini, mayoritas orang Yahudi, baik dari
golongan sekuler, maupun dari kaum Orthodox seringkali
melakukan kesalahan dengan berkata bahwa istilah
“Perjanjian Baru” diciptakan oleh orang Kristen untuk
menjelekkan, mendiskreditkan, dan menunjukkan
superioritas peradaban Kristiani. Mereka lupa bahwa
sebenarnya istilah “Perjanjian Baru” adalah istilah yang
dipakai oleh Nabi Yeremia untuk menunjukkan the “next
step” rencana Allah bagi Israel dan Yehuda.
Demikian pula pada jaman ini. Generasi Yeremia diminta
untuk memiliki sifat yang profetik yang sanggup menunjuk
kearah ‘next phase’ rencana Tuhan bagi dunia ini.
Seperti dikatakan pada permulaan artikel ini, kita
sedang ada di suatu masa pancaroba dimana kita akan
meninggalkan suatu ‘era’ dan masuk kepada ‘era yang baru’
III. KESIMPULAN
1. Generasi Yeremia adalah Generasi yang Unik
Karena posisi waktu dimana mereka hidup. Pada zaman
Yeremia pintu “anugerah” bagi Yehuda akan segera
tertutup. Hari-hari ini kita pun sedang berada dimana
kedatangan Tuhan Yesus kedua kali segera terjadi yang
artinya pintu kesempatan bagi kita untuk melaksanakan
apa yang Tuhan perintahkan juga segera tertutup.
2. Generasi Yeremia adalah Generasi yang “Radikal”
Karena memillih untuk hidup sesuai dengan standar
kekudusan Allah, menyerukan pertobatan dimasa begitu
banyak orang yang berkompromi terhadap hal-hal tersebut.
Generasi Yeremia adalah generasi yang “radikal” bukan
hanya dalam hal dosa-dosa vertikal (Yeremia 2) tetapi
juga dalam hal dosa-dosa yang bersifat horizontal (Yeremia
21-22).
3. Generasi Yeremia adalah Generasi yang Profetik
Karena secara akurat mengacu kepada langkah berikut ke
dalam rencana Allah. Sama seperti Yeremia diberikan
pewahyuan mengenai “perjanjian yang baru” yang digenapi
pada saat kedatangan Yesus pertama kali, demikian juga
pada jaman ini. Generasi Yeremia akan merujuk pada
kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, yang harus
didahului oleh penggenapan Amanat Agung.
4. Generasi Yeremia adalah generasi yang mendapatkan
rasa aman dan kekuatan di dalam Tuhan, bukan yang
mencari pengakuan dan penerimaan dari komunitas anak
muda secara umum. (AL).